Terobosan New Media, Harapan Baru untuk Perbukuan Indonesia
![]() |
| New Media, New Hope for Indonesian Booklovers |
Selagi masyarakat kita masih berdebat soal perlu tidaknya BBM naik, singgahlah ke toko-toko buku dan perhatikan ada kenaikan harga buku. Sepertinya fakta ini juga masih belum diperhatikan oleh para pembaca buku yang bergabung di komunitas-komunitas literasi yang ada. Semua masih terhenyak, harga BBM naik ataupun tidak, ternyata harga barang-barang pokok sudah keburu naik. Tetapi kalaupun mereka mendapati harga buku naik, apa yang bisa diperbuat selain menelannya bulat-bulat.
Buku mahal itu cerita lama. Penulis tidak sejahtera apalagi, itu berita basi. Seolah kenyataan-kenyataan yang berseliweran sehari-hari itu akhirnya dibiarkan begitu saja tanpa pernah benar-benar dicarikan solusi. Bagi pembaca kebanyakan (bukan Anda yang sejahtera dan tak kesulitan dengan uang) terutama yang berdomisili di luar Jakarta, atau bahkan luar pulau Jawa, kenaikan harga buku akan membuat buku sebagai sumber ilmu semakin sulit dijangkau. Prioritas mereka akan tertuju pada pemenuhan kebutuhan perut. Sedangkan untuk membeli buku yang harga psikologisnya sekarang berada di atas Rp 70.000 untuk buku dengan ketebalan 300 halaman barangkali hanya bisa dilakukan satu kali saja sebulan. Penerbit tidak mau pusing-pusing, selama masih ada orang yang membeli buku-buku seharga bandrol mereka itu. Sedang pemerintah akan cukup sibuk menyiapkan stigmatisasi yang berulangkali dikatakan: daya baca masyarakat rendah, tanpa pernah mencoba mencari akar permasalahannya dari buku yang semakin tidak ter-akses karena daya beli rendah, ketersediaan karena distribusi tidak merata, dan tidak ada infrastruktur yang mendukung (jalan, gedung perpustakaan, pajak, insentif dll).
Di Balik Publikasi: Kisah Perjalanan Obrolan #Twitteriak Season 1
| Obrolan #Twitteriak |
SEJAK obrolan #Twitteriak dimulai 3 November 2011 lalu hingga hari ini, banyak orang memberi apresiasi kepada kami sebagai pengelola obrolan mingguan itu. Sebetulnya, hal ini perlu diluruskan. Karena apresiasi ini seharusnya dialamatkan pada semua yang terlibat pada proses penciptaan #Twitteriak hingga menjadi obrolan yang selalu dinantikan: Allah SWT, para penulis, penerjemah, editor, peresensi, penerbit, ilustrator, pendongeng, sutradara, para pembaca, para Tweereaks, dan lainnya.
Sejatinya #Twitteriak hanyalah “wadah” yang diciptakan untuk membuat obrolan mengenai dunia penulisan dan membaca dapat menjadi alternatif selain obrolan politik, ekonomi, gosip, dan lain-lain. Sesekali di ranah twitter tersedia ruang bagi mereka yang punya banyak gagasan itu untuk berbagi, untuk mengungkapkan isi pikirannya. Juga sekaligus memberi ruang bagi khalayak lebih luas untuk bertanya kepada yang membagi, menggali manfaat yang bisa digunakannya sendiri kelak suatu hari nanti.
Belajar dari Banyak Orang, Belajar dari Kesalahan
Sebagai “wadah”, obrolan #Twitteriak masih belia. Selama Season 1 ini, lebih banyak belajar dan uji coba. Belajar dari banyak orang. Belajar juga dari kesalahan. Salah satu pokok bahan belajar adalah program sejenis yang lebih dulu hadir: Twitalk.
![]() |
| Twitalk dikreasi oleh Pungkas Riandika (Salingsilang.com) |
Twitalk merupakan program wawancara via Twitter kreasi Pungkas Riandika (@pungkas). Soal format, kami banyak belajar dari Twitalk ini. Yang membedakan, hanyalah topik dan tamunya. Kalau Twitalk lebih umum, di obrolan #Twitteriak lebih khusus: seputar buku, film, kondisi sosial dan sejarah dengan tujuan lebih spesifik lagi yakni publikasi. Perjumpaan dengan Twitalk ini terjadi karena kami ikut serta dalam Social Media Festival 2011 lalu dan melihat peluang, seandainya ada wadah khusus hanya untuk dunia menulis dan membaca. Dari sanalah, gagasan ini lahir.






Komentar Terbaru