Matinya Tukang Kritik dan Menanti Kelahiran Kritikus Baru

Upaya menghadirkan pembacaan yang berimbang harus terus dilakukan tanpa lelah dan harus penuh tawa bahagia.

damdubidudam

Bertentangan dengan apa yang diharapkan banyak pihak, kritikus justru telah lama mati sehingga karya-karya yang ada seolah berjalan tanpa kritik. Sebenarnya siapa yang berkepentingan atas kelahiran kritikus baru di tengah derasnya arus produktivitas karya, baik melalui media cetak maupun digital, kalau bukan kita?

Kritik bukan sekedar berkomentar

ADA kegelisahan dalam jagat menulis di sekitar kita. Kegelisahan itu menyangkut banyak hal. Salah satunya, seperti yang diucapkan Sapardi Djoko Damono dalam rangkaian acara Bienal Sastra Internasional Utan Kayu-Salihara 2011 yang diselenggarakan di bulan Oktober 2011, adalah ketidakmampuan fakultas sastra melahirkan kritikus. Dia mempertanyakan kembali fungsi fakultas sastra, apakah sebagai pencetak sastrawan atau pencetak ahli sastra. Timbulnya pertanyaan ini didasari atas pengalaman dan pengamatannya bahwa selama ini fakultas sastra sangat jarang menghasilkan alumni yang mumpuni di bidangnya.

Lihat pos aslinya 992 kata lagi

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s