Ikhtiar Bersama Demi Amanat Pak Raden

Kampanye #bukuanaklokal mempertemukan saya dengan kenyataan pahit salah satu penulis buku anak lokal bernama Drs. Suyadi. Ia adalah penulis beberapa buku dengan gaya bercerita yang khas, bermoral, dilengkapi dengan ilustrasi yang menawan. Goresan ilustrasinya bahkan mengisi masa kecil anak Indonesia yang hidup di tahun 70-80an karena jejaknya tertera di buku-buku teks sekolah.

4 dari 13 buku anak lokal yang ditulis oleh Drs. Suyadi

Orang mungkin acuh pada nama Drs. Suyadi, tetapi begitu ia mengganti namanya menjadi Pak Raden, maka gilang-gemilanglah ingatan orang akan dirinya. Pak Raden yang galak, arogan, dan pelit. Itulah karakter yang diciptakan Drs. Suyadi sebagai antitesis Si Unyil yang ramah, baik hati, dan pemurah. Gilang-gemilang ingatan orang itu dan sukses besar Si Unyil bertahan sebagai warisan budaya visual ternyata tak disertai dengan kesejahteraan bagi penciptanya.

Dengan kasat mata, saya segera tahu Pak Raden miskin. Tak berharta. Rumah yang ia tinggali merupakan rumah kakaknya. Bajunya lusuh, mungkin sudah lama tak beli baju baru. Ia melukis. Ia mengisi suara. Di usianya yang nyaris 80 tahun pada November 2012 nanti ia harus banting tulang mencari sesuap nasi.

Baca lebih lanjut

Iklan

Terobosan New Media, Harapan Baru untuk Perbukuan Indonesia

New Media, New Hope for Indonesian Booklovers

Selagi masyarakat kita masih berdebat soal perlu tidaknya BBM naik, singgahlah ke toko-toko buku dan perhatikan ada kenaikan harga buku. Sepertinya fakta ini juga masih belum diperhatikan oleh para pembaca buku yang bergabung di komunitas-komunitas literasi yang ada. Semua masih terhenyak, harga BBM naik ataupun tidak, ternyata harga barang-barang pokok sudah keburu naik. Tetapi kalaupun mereka mendapati harga buku naik, apa yang bisa diperbuat selain menelannya bulat-bulat.

Buku mahal itu cerita lama. Penulis tidak sejahtera apalagi, itu berita basi. Seolah kenyataan-kenyataan yang berseliweran sehari-hari itu akhirnya dibiarkan begitu saja tanpa pernah benar-benar dicarikan solusi. Bagi pembaca kebanyakan (bukan Anda yang sejahtera dan tak kesulitan dengan uang) terutama yang berdomisili di luar Jakarta, atau bahkan luar pulau Jawa, kenaikan harga buku akan membuat buku sebagai sumber ilmu semakin sulit dijangkau. Prioritas mereka akan tertuju pada pemenuhan kebutuhan perut. Sedangkan untuk membeli buku yang harga psikologisnya sekarang berada di atas Rp 70.000 untuk buku dengan ketebalan 300 halaman barangkali hanya bisa dilakukan satu kali saja sebulan. Penerbit tidak mau pusing-pusing, selama masih ada orang yang membeli buku-buku seharga bandrol mereka itu. Sedang pemerintah akan cukup sibuk menyiapkan stigmatisasi yang berulangkali dikatakan: daya baca masyarakat rendah, tanpa pernah mencoba mencari akar permasalahannya dari buku yang semakin tidak ter-akses karena daya beli rendah, ketersediaan karena distribusi tidak merata, dan tidak ada infrastruktur yang mendukung (jalan, gedung perpustakaan, pajak, insentif dll).

Baca lebih lanjut

Di Balik Publikasi: Pengerjaan Tahap Ketiga Video Adaptasi Fit For School

Bulan Maret ini, Tanam Ide Kreasi kembali mendapat kepercayaan dari klien kami, Savica Public Health Advisory and Communication Consultancy untuk mengerjakan tahap ketiga atau tahap akhir dari seluruh rangkaian video adaptasi Fit For School, organisasi kesehatan yang fokus pada penerapan Program Pelayanan Kesehatan Dasar (PPKD).

Video adaptasi ketiga berisi hal-hal apa saja yang menjadi pertimbangan saat membangun fasilitas kesehatan dasar. Video ini berdurasi hampir 10 menit dan melibatkan voice talents paling banyak. Seharusnya ada 12 suara yang perlu diadaptasi, tetapi untuk mempermudah proses pengerjaan, ditetapkan 6 pengisi suara untuk mengerjakannya.
Baca lebih lanjut